Selasa, 24 Oktober 2017

Tips Mendaki Sumbing via Garung, Wonosobo



Pendakian Gunung Sumbing via Garung


                Terakhir mendaki gunung Sumbing, sekitar Juli 2017. Belum lama memang, jadi saya rasa cukup menyenangkan untuk membagikan sedikit tips mendaki gunung Sumbing lewat Garung ini. Gunung sumbing memiliki ketinggian sekitar ---- meter di atas permukaan laut. Pemandanganya yang elok berlatarkan view gunung Sindoro membuat banyak orang yang pernah kesini serasa ingin kembali lagi. Sebelum memaparkan tentang pengalaman saya mendaki gunung Sumbing, sebaiknya anda juga membaca artikel sebelumnya tentang disini.
                Basecamp Garung berjarak sekitar 100 meter dari jalan provinsi, jadi anda yang kesulitan menemukan transportasi untuk pendakian atau yang belum pernah ke daerah Garung, Wonosobo Anda tidak perlu khawatir merasa kesusahan mencapai lokasi basecamp karena jaraknya cukup dekat. Basecamp  Garung sendiri merupakan rumah yang disulap menjadi tempat peristirahatan pendaki Sumbing baik yang suah turun maupun hendak naik. Basecamp sangat nyaman karena fasilitas yang tersedia sangat lengkap, mulai dari parkiran yang luas dan memiliki atap, kamar mandi dan WC yang lebih dari empat buah dan ada juga masjid berjarak sekitar 10 meter dari basecamp. Masjid itu sendiri cukup luas dengan fasilitas WC umum di sebelahnya, jadi Anda tidak perlu khawatir mengantri WC jika berada di basecamp Garung. Ohya, ada satu hal yang sangat berkesan tentang basecamp Garung menurut saya, yaitu nasi goreng nya yang sangat enak di lidah. Seharga sembilan ribu rupiah, sangat pas untuk dijadikan bekal mendaki gunung Sumbing. Kami berangkat dari basecamp pukul 13.00.
·         Basecamp – Pos 1
Jalur sepanjang basecamp menuju pos pertama melalui berbagai medan. Disambut jalan aspal dan pedesaan sekitar seratus meter, menanjak terus hingga tiba di perbatasan desa dan perkebunan. Ada dua jalur yang bisa digunakan untuk mendaki gunung Sumbing, yaitu jalur lama dan baru. Jalur baru ini lebih jauh, tetapi terdapat mata air hingga pos 3 seperti yang tercantum dalam peta. Tetapi kami lebih memilih menggunakan jalur lama karena kami pikir lebih cepat sampai. Jalan diantara perkebunan berupa tanah dan setapak, biasa digunakan petani untuk lewat membawa hasil kebunya. Saat mereka ( para petani ) lewat pun, kami menepi dan mendahulukan mereka lewat karena melihat beban yang mereka panggul pasti sangat berat. Bukankah kearifan lokal seperti ini yang membuat kita gemar mendaki?
‘Lolos’ dari perkebunan dengan jalan tanah, kami langsung disambut jalanan makadam yang cukup panjang dan terjal. Jalur makadam ini kami tidak tahu persis panjangnya, tetapi memakan waktu hampir setengah jam untuk melewatinya. Percayalah, bagian makadam ini sangat menguji mental Anda untuk sampai ke puncak. Sebenarnya, disediakan ojek untuk orang beserta carrier nya dengan ongkos 20 ribu sekali jalan, tetapi kami lebih memilih untuk berjalan kaki. Lumayan, dengan ojek anda bisa menghemat 1 jam perjalanan dari basecamp menuju pos satu menjadi hanya 15 menit saja. Jangan khawatir, di puncak pos 1 Anda akan menemukan checkpoint untuk mengisi tenaga berupa warung semi permanen yang menjual makanan, air minum dan camilan. Disediakan juga joglo dan tempat sholat, meskipun air untuk wudlu nya berbayar. Di samping warung juga ada pos ojek yang mengangkut para pendaki. Kami tiba di pos satu sekitar jam setengah tiga karena rombongan kami ada yang tertinggal.



·         Pos 1 – Pos 2
Barulah, dari pos 1 menuju pos 2 jalanan full di dalam hutan. Jalanya hanya muat dilewati satu orang, namun kerap bercabang. Meskipun ujung dari cabang jalan sama, usahakan memilih satu cabang jalan yang sama dengan rombongan agar tidak hilang.  Berhati – hatilah terhadap ranting pohon yang berserakan. Dan meski tertutup, sebenarnya di samping jalur ini adalah jurang jadi usahakan tetap jaga keseimbangan dan tetap berdekatan dengan rombongan. View yang ditawarkan selama perjalanan menuju pos dua kurang menarik, karena hanya disuguhi pepohonan di samping kanan dan kiri jalan, tetapi suasana sejuk dan rindangnya sangat terasa sehingga tidak terlalu menguras tenaga. Di pos 2 terdapat WC darurat sederhana, bisa dimanfaatkan untuk buang air kecil. Tempatnya juga cukup lapang untuk anda melaksanakan sholat berjamaah. Saya dan rombongan tiba di pos tiga sekitar jam setengah empat.
·         Pos 2 – Pos 3
Pos dua menuju pos tiga sebenarnya jalur yang cukup pendek, namun sangat menantang. Memang awalnya cukup landai dan tidak tampak mencurigakan, tetapi sekitar sepuluh menit berjalan kami dihadapkan dengan yang sering disebut ‘ tanjakan setan ‘. Ya, memang nama tersebut patut disandangkan karena kemiringanya hampir 45 derajat, untuk mendakinya sangat disarankan menggunakan track pole. Jalurnya pun berdebu, sangat disarankan untuk mendakinya dalam keadaan hujan, lebih baik berkemah di pos dua saja dan leanjutkanya kembali ketika keadaan cerah. Lulus dari tanjakan setan, anda akan menemukan tempat camp cukup lapang di pos tiga.
Kami tiba di pos tiga sekitar pukul lima. Dengan pertimbangan hampir waktu maghrib, kami memutuskan untuk mendirikan dome dan melanjutkan summit attack besok dini harinya. Kami mendaki lagi sekitar lima menit dari pos tiga untuk mencari tempat yang lebih lapang dan aman, karena jika berkemah tepat di pos tiga angin akan terasa sangat kencang. Benar saja, perkiraan kami tidak sia – sia karena di atas pos tiga ternyata ada tempat berkemah yang lebih lapang dan aman dari serbuan angin malam. Meski ramai dipenuhi dome pendaki lain, kami masih mendapatkan tempat untuk mendirikan dome kami sendiri. Dinginya malam kami lawan dengan memasak sedikit mie instan dan seduhan susu. Beberapa ada yang menyeduh kopi. Kami masuk dome berlima, memakannya di dalam dome membuat suasana semakin terasa hangat. Jujur, hal – hal seperti ini lebih saya rindukan dari sebuah pendakian ketimbang sampai puncak dan berfoto ria. Kami terlelap pukul sembilan dan merencanakan summit attack mulai pukul dua dini hari esok.
·         Pos 3 – Pos 4
Sesuai perjanjian, tepat pukul dua saya dan kawan – kawan terbangun, terutama salah satu teman saya yang sagat bersemangat summit attack membangunkan saya yang cenderung enggan keluar dari zona nyaman di dalam SB. Setelah ‘mengumpulkan nyawa’ dan meminum sedikit susu, kami menyiapkan perbekalan. Tidak lupa ATK beserta kertasnya dan juga kamera. Setelah siap, kami mulai perjalanan summit attack dan bertemu beberapa rombongan setelah melakukan perjalanan beberapa menit. Kami bersalip – salipan dengan kelompok lain dan saling sapa pula. Sekitar satu jam lebih kami belum menemui plang bertuliskan pos empat atau semacamnya. Satu hal lagi yang membuat pendakian ini menyenangkan bagi saya, kami bertemu rombongan yang berasal dari Jakarta di tengah jalan. Semuanya laki – laki dan saat kami tanya jawabanya serempak belum pernah mendaki Sumbing sebelumnya. Tapi, meskipun belum ada tali perkenalan di antara kami mereka dengan senang hati menawarkan wedang jahe dan camilan untuk sedikit menghangatkan badan. Kami menerimanya dengan senang hati karena kebetulan perbekalan kami habis sebelumnya dan tersisa makanan berat saja. Pendakian memang selalu menyuguhkan hal – hal tak diperkirakan dan sangat membantu kita untuk selalu mengingat sisi positif dalam diri kita yang lama tercemar kehidupan kota dengan segala ujaran kebencianya. Sekitar satu jam setelah itu, kami tiba di pos empat. Ohya, jalur dari pos tiga ini hampir mirip dengan tanjakan setan, hanya saja seperti versi lebih lunaknya. Jalananya sebagian besar tanah tandus, didampingi beberapa pohon mati yang bertengger. Sebagian lagi diisi bebatuan untuk berpijak. Tidak semiring tanjakan setan memang, tapi tetap cukup menguras tenaga.



·         Pos 4 – Summit
Pos empat tidak terlalu istimewa dibandingkan dengan pos – pos lainya. Namun ada tempat camp yang menjadi primadona pendaki Sumbing di pos ini. Ya, watu kotak atau batu kotak strategis untuk camping karena ada batu besar berbentuk kotak yang menghalangi hembusan angin sehingga camping di tempat ini akan terasa hangat. Meskipun agak miring, lahanya juga luas dan nyaman untuk aktifitas memasak. Jika naik sedikit, kita juga bisa melihat spot pemandangan yang indah dan cocok untuk berfoto. Kami mengetahui fakta ini ketikat perjalanan kembali, saat naik, selain bentuknya yang besar dan mencolok kami sama sekali tidak terlalu memperhatikanya.
Sekitar 40 menit dari watu kotak, kami pun tiba di puncak. Allhamdulillah kami masih sempat mendapatkan sunrise bahkan cukup untuk beberapa foto. Puncak Sumbing memang tidak seluas Sindoro, cenderung satu jalur dengan kanan kiri jurang, tetapi pemandanganya tak kalah menarik. Gunung sindoro, Prau dan Slamet tampak gagah di sebelah barat.


Total waktu kami mendaki sekitar delapan jam, dengan formasi rombongan ada yang cewek. Bagi Anda yang hendak mendaki gunung Sumbing lewat Garung ini kami sarankan untuk mendakinya tidak di saat musim hujan. Dan jangan lupa untuk mencicipi nasi goreng basecamp-nya, hehe... Salam lestari!
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner