Pendakian Gunung Sumbing via Garung
Terakhir
mendaki gunung Sumbing, sekitar Juli 2017. Belum lama memang, jadi saya rasa
cukup menyenangkan untuk membagikan sedikit tips mendaki gunung Sumbing lewat
Garung ini. Gunung sumbing memiliki ketinggian sekitar ---- meter di atas
permukaan laut. Pemandanganya yang elok berlatarkan view gunung Sindoro membuat banyak orang yang pernah kesini serasa
ingin kembali lagi. Sebelum memaparkan tentang pengalaman saya mendaki gunung
Sumbing, sebaiknya anda juga membaca artikel sebelumnya tentang disini.
Basecamp Garung berjarak
sekitar 100 meter dari jalan provinsi, jadi anda yang kesulitan menemukan
transportasi untuk pendakian atau yang belum pernah ke daerah Garung, Wonosobo
Anda tidak perlu khawatir merasa kesusahan mencapai lokasi basecamp karena jaraknya cukup dekat. Basecamp Garung sendiri
merupakan rumah yang disulap menjadi tempat peristirahatan pendaki Sumbing baik
yang suah turun maupun hendak naik. Basecamp
sangat nyaman karena fasilitas yang tersedia sangat lengkap, mulai dari
parkiran yang luas dan memiliki atap, kamar mandi dan WC yang lebih dari empat
buah dan ada juga masjid berjarak sekitar 10 meter dari basecamp. Masjid itu
sendiri cukup luas dengan fasilitas WC umum di sebelahnya, jadi Anda tidak
perlu khawatir mengantri WC jika berada di basecamp
Garung. Ohya, ada satu hal yang sangat berkesan tentang basecamp Garung menurut saya, yaitu nasi goreng nya yang sangat enak di lidah. Seharga sembilan ribu
rupiah, sangat pas untuk dijadikan bekal mendaki gunung Sumbing. Kami berangkat
dari basecamp pukul 13.00.
·
Basecamp –
Pos 1
Jalur sepanjang basecamp menuju pos pertama melalui berbagai medan. Disambut jalan
aspal dan pedesaan sekitar seratus meter, menanjak terus hingga tiba di
perbatasan desa dan perkebunan. Ada dua jalur yang bisa digunakan untuk mendaki
gunung Sumbing, yaitu jalur lama dan baru. Jalur baru ini lebih jauh, tetapi
terdapat mata air hingga pos 3 seperti yang tercantum dalam peta. Tetapi kami
lebih memilih menggunakan jalur lama karena kami pikir lebih cepat sampai. Jalan
diantara perkebunan berupa tanah dan setapak, biasa digunakan petani untuk
lewat membawa hasil kebunya. Saat mereka ( para petani ) lewat pun, kami menepi
dan mendahulukan mereka lewat karena melihat beban yang mereka panggul pasti
sangat berat. Bukankah kearifan lokal seperti ini yang membuat kita gemar
mendaki?
‘Lolos’ dari perkebunan dengan jalan tanah,
kami langsung disambut jalanan makadam yang cukup panjang dan terjal. Jalur
makadam ini kami tidak tahu persis panjangnya, tetapi memakan waktu hampir
setengah jam untuk melewatinya. Percayalah, bagian makadam ini sangat menguji
mental Anda untuk sampai ke puncak. Sebenarnya, disediakan ojek untuk orang
beserta carrier nya dengan ongkos 20
ribu sekali jalan, tetapi kami lebih memilih untuk berjalan kaki. Lumayan,
dengan ojek anda bisa menghemat 1 jam perjalanan dari basecamp menuju pos satu menjadi hanya 15 menit saja. Jangan khawatir,
di puncak pos 1 Anda akan menemukan checkpoint
untuk mengisi tenaga berupa warung semi permanen yang menjual makanan, air
minum dan camilan. Disediakan juga joglo dan tempat sholat, meskipun air untuk
wudlu nya berbayar. Di samping warung juga ada pos ojek yang mengangkut para
pendaki. Kami tiba di pos satu sekitar jam setengah tiga karena rombongan kami
ada yang tertinggal.
·
Pos 1 –
Pos 2
Barulah, dari pos 1 menuju pos 2 jalanan full di dalam hutan. Jalanya hanya muat
dilewati satu orang, namun kerap bercabang. Meskipun ujung dari cabang jalan
sama, usahakan memilih satu cabang jalan yang sama dengan rombongan agar tidak
hilang. Berhati – hatilah terhadap ranting
pohon yang berserakan. Dan meski tertutup, sebenarnya di samping jalur ini
adalah jurang jadi usahakan tetap jaga keseimbangan dan tetap berdekatan dengan
rombongan. View yang ditawarkan
selama perjalanan menuju pos dua kurang menarik, karena hanya disuguhi
pepohonan di samping kanan dan kiri jalan, tetapi suasana sejuk dan rindangnya
sangat terasa sehingga tidak terlalu menguras tenaga. Di pos 2 terdapat WC
darurat sederhana, bisa dimanfaatkan untuk buang air kecil. Tempatnya juga
cukup lapang untuk anda melaksanakan sholat berjamaah. Saya dan rombongan tiba
di pos tiga sekitar jam setengah empat.
·
Pos 2 –
Pos 3
Pos dua menuju pos tiga sebenarnya jalur
yang cukup pendek, namun sangat menantang. Memang awalnya cukup landai dan
tidak tampak mencurigakan, tetapi sekitar sepuluh menit berjalan kami
dihadapkan dengan yang sering disebut ‘ tanjakan setan ‘. Ya, memang nama
tersebut patut disandangkan karena kemiringanya hampir 45 derajat, untuk
mendakinya sangat disarankan menggunakan track
pole. Jalurnya pun berdebu, sangat disarankan untuk mendakinya dalam
keadaan hujan, lebih baik berkemah di pos dua saja dan leanjutkanya kembali
ketika keadaan cerah. Lulus dari tanjakan setan, anda akan menemukan tempat camp cukup lapang di pos tiga.
Kami tiba di pos tiga sekitar pukul lima. Dengan
pertimbangan hampir waktu maghrib, kami memutuskan untuk mendirikan dome dan melanjutkan summit attack besok dini harinya. Kami mendaki
lagi sekitar lima menit dari pos tiga untuk mencari tempat yang lebih lapang
dan aman, karena jika berkemah tepat di pos tiga angin akan terasa sangat
kencang. Benar saja, perkiraan kami tidak sia – sia karena di atas pos tiga
ternyata ada tempat berkemah yang lebih lapang dan aman dari serbuan angin
malam. Meski ramai dipenuhi dome
pendaki lain, kami masih mendapatkan tempat untuk mendirikan dome kami sendiri. Dinginya malam kami
lawan dengan memasak sedikit mie instan dan seduhan susu. Beberapa ada yang
menyeduh kopi. Kami masuk dome berlima,
memakannya di dalam dome membuat suasana
semakin terasa hangat. Jujur, hal – hal seperti ini lebih saya rindukan dari
sebuah pendakian ketimbang sampai puncak dan berfoto ria. Kami terlelap pukul
sembilan dan merencanakan summit attack
mulai pukul dua dini hari esok.
·
Pos 3 –
Pos 4
Sesuai perjanjian, tepat pukul dua saya dan
kawan – kawan terbangun, terutama salah satu teman saya yang sagat bersemangat summit attack membangunkan saya yang
cenderung enggan keluar dari zona nyaman di dalam SB. Setelah ‘mengumpulkan
nyawa’ dan meminum sedikit susu, kami menyiapkan perbekalan. Tidak lupa ATK
beserta kertasnya dan juga kamera. Setelah siap, kami mulai perjalanan summit attack dan bertemu beberapa
rombongan setelah melakukan perjalanan beberapa menit. Kami bersalip – salipan dengan
kelompok lain dan saling sapa pula. Sekitar satu jam lebih kami belum menemui
plang bertuliskan pos empat atau semacamnya. Satu hal lagi yang membuat
pendakian ini menyenangkan bagi saya, kami bertemu rombongan yang berasal dari
Jakarta di tengah jalan. Semuanya laki – laki dan saat kami tanya jawabanya
serempak belum pernah mendaki Sumbing sebelumnya. Tapi, meskipun belum ada tali
perkenalan di antara kami mereka dengan senang hati menawarkan wedang jahe dan
camilan untuk sedikit menghangatkan badan. Kami menerimanya dengan senang hati
karena kebetulan perbekalan kami habis sebelumnya dan tersisa makanan berat
saja. Pendakian memang selalu menyuguhkan hal – hal tak diperkirakan dan sangat
membantu kita untuk selalu mengingat sisi positif dalam diri kita yang lama
tercemar kehidupan kota dengan segala ujaran kebencianya. Sekitar satu jam
setelah itu, kami tiba di pos empat. Ohya, jalur dari pos tiga ini hampir mirip
dengan tanjakan setan, hanya saja seperti versi lebih lunaknya. Jalananya sebagian
besar tanah tandus, didampingi beberapa pohon mati yang bertengger. Sebagian lagi
diisi bebatuan untuk berpijak. Tidak semiring tanjakan setan memang, tapi tetap
cukup menguras tenaga.
·
Pos 4 – Summit
Pos empat tidak terlalu istimewa
dibandingkan dengan pos – pos lainya. Namun ada tempat camp yang menjadi primadona pendaki Sumbing di pos ini. Ya, watu kotak atau batu kotak strategis
untuk camping karena ada batu besar
berbentuk kotak yang menghalangi hembusan angin sehingga camping di tempat ini akan terasa hangat. Meskipun agak miring,
lahanya juga luas dan nyaman untuk aktifitas memasak. Jika naik sedikit, kita
juga bisa melihat spot pemandangan yang indah dan cocok untuk berfoto. Kami
mengetahui fakta ini ketikat perjalanan kembali, saat naik, selain bentuknya
yang besar dan mencolok kami sama sekali tidak terlalu memperhatikanya.
Sekitar 40 menit dari watu kotak, kami pun
tiba di puncak. Allhamdulillah kami masih sempat mendapatkan sunrise bahkan cukup untuk beberapa
foto. Puncak Sumbing memang tidak seluas Sindoro, cenderung satu jalur dengan
kanan kiri jurang, tetapi pemandanganya tak kalah menarik. Gunung sindoro, Prau
dan Slamet tampak gagah di sebelah barat.
Total waktu kami mendaki sekitar
delapan jam, dengan formasi rombongan ada yang cewek. Bagi Anda yang hendak
mendaki gunung Sumbing lewat Garung ini kami sarankan untuk mendakinya tidak di saat musim hujan. Dan jangan
lupa untuk mencicipi nasi goreng basecamp-nya,
hehe... Salam lestari!




